Dua Harimau Sumatra Lahir di Bukittinggi

TAMAN Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi, Sumatra Barat, mendapatkan keluarga baru. Sepasang harimau sumatra yang diprogramkan untuk beranak melahirkan dua anak harimau.

Kepala Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi Iqbal mengatakan kelahiran harimau sumatra di kebun binatang itu merupakan yang pertama dalam 50 tahun terakhir.Kelahiran harimau sumatra yang terakhir tercatat pada 1960.

Iqbal menambahkan, kedua anak harimau itu lahir pada Senin (22/9) malam. Anak pertama lahir pada pukul 22.40 WIB, dan 15 menit kemudian lahir anak kedua.
Ingin berkunjung ke Kebun Binantang di Bukittinggi dapat menggunakan rental mobil Padang BUkittinggi melalui Fahri Tour
“Saat ini belum diketahui jenis kelamin mereka karena masih berada di ruang isolasi bersama induk. Sekitar 10 hingga 15 hari ke depan belum bisa diganggu,“ kata Iqbal kepada Media Indonesia di Bukittinggi, kemarin.
Setelah kelahiran itu, tambah Iqbal, ayah kedua anak harimau itu telah dipisahkan dari induk di kandang berbeda. Sewaktu lahir, kedua anak harimau itu memiliki panjang 25 cm dan berat 0,5 kg.

Sebelum kelahiran itu, kebun binatang yang dikelola Pemkot Bukittinggi tersebut memiliki empat harimau sumatra. Dua dari empat harimau itu, yakni induk dan ayah dari kedua harimau yang baru lahir itu, berasal dari alam liar. Dua ekor lainnya merupakan kiriman dari kebun binatang di Jambi.

“Induk sang harimau ialah harimau yang kena jerat babi oleh masyarakat di Dharmasraya. Ayahnya juga kena jerat di Muaro Kalaban, Sawahlunto,“ papar Iqbal.

Dengan hadirnya dua anak harimau itu, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi kini memiliki enam harimau sumatra.
Saat ini, masih menurut Iqbal, kebun binatang terbaik pada 1933 di Hindia Belanda itu memelihara 577 satwa, antara lain, mamalia, burung, dan ikan.Luas kebun binatang tersebut mencapai 7 hektare.

Terkait dengan anak harimau sumatra yang baru lahir, Iqbal menegaskan pihaknya akan merawat keduanya sebaik-baiknya.
Dua dokter hewan, misalnya, telah disiapkan untuk berjaga-jaga, ditambah satu paramedis dan satu pawang harimau. (YH/X-7) Media Indonesia, 25/09/2014, halaman 2

Mozaik Etnisitas Minahasa

Manusia Minahasa masih berpegang pada budaya mapalus. Tidak hanya di daerah, tetapi juga terjaga hingga di negeri perantauan. HEMBUSAN angin Laut Pasifik terus menyapu gulungan ombak yang berkejar-kejaran. Langit tampak kuning keemasan selepas sang mentari tenggelam di ufuk barat. Satu per satu warga pun masih bersantai di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, senja itu.

Tak begitu jauh dari bibir pantai, deretan warung berjejer. Patricia, 31, bersama beberapa temannya memesan pisang goreng plus dabu-dabu (sambal) yang khas rasanya. Jus jeruk dan minuman soda tak lupa mereka pesan bersama-sama. Tak berapa lama, Patricia memesan lagi setelah tergiur menengok daftar menu. Pilihannya, tak lain ialah ubur tinutuan atau populer disebut bubur manado.

Suasana santai senja begitu nikmat hingga dia dan teman-temannya kembali ke tempat penginapan. Keesokannya, ia bersama beberapa teman ikut bergotong-royong memperbaiki sekaligus menyumbang buku-buku pelajaran untuk beberapa sekolah yang ambruk akibat banjir awal tahun ini.

Lalu, Patricia pun melanjutkan aktivitas dengan menyaksikan Tari Maengket atas rekomendasi pemandu wisata di sebuah sanggar. Tarian tersebut mengisahkan kehidupan remaja suku Minahasa masa lalu kala mensyukuri panen hasil pertanian.

Kini Patricia sudah kembali ke Jakarta. Ia masih terngiang deburan ombak pantai saat melawat ke kampung halaman asal le luhurnya, sebulan silam. Suasana kekera batan bersua keluarga besarnya sangat membekas. Ia mengaku pertama kali ke sana kala usianya 12 tahun. Tak diayal, keberadaan orang Minahasa sangat ramah. Masyarakat selalu mensyukuri alam. Kehidupan gotong royong pun tecermin lewat suguhan seni seperti Tari Maengket. Ada sebuah filosofi orang Minahasa dalam menjaga kebersamaan, yaitu lewat budaya mapalus.

Budaya mapalus merupakan tradisi gotong royong masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan, terutama di era masa silam, saat warga kampung berbondong-bondong memanen padi di sawah. Keberadaan mapalus dulu hingga kini masih terjaga. Proses gotong royong itu tercermin lewat lantunan lagu-lagu saat di sawah. Para remaja putri bernyanyi untuk menghibur para pekerja. Di era modern kini, mapalus mungkin sudah sedikit berkembang. Tradisi yang dahulunya dilakukan di sektor pertanian, kini sudah merambah ke berbagai sektor.

Semisal, kegiatan sosial-kemanusiaan saat terjadi bencana alam. Budaya gotong royong inilah yang membuat warga tetap hidup damai dan saling peduli. Menjadi satu Nama Minahasa sebagai satu daerah kewilayahan di utara Sulawesi berarti `Menjadi Satu'. Pertama kali muncul sejak 1790 pada musyawarah antara semua Kepala Walek. Istilah ini pun dikenal sebagai Dewan Kepala Walak etnik tradisional Minahasa (het landstreek van Manado).

Dewan itu mempersatukan delapan subetnik tradisional Minahasa. Kedelapannya, yaitu Tonsea, Tondano, Tombulu, Tontemboan, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, dan Bantik. Kesatuan itulah cikal bakal muncul sebutan etnik Minahasa. Keberadaan orang Minahasa, baik yang ada di utara Sulawesi maupun di perantauan masih menjaga budaya mapalus. Sifat itu masih berakar lewat falsafah hidup, yaitu si tou timou tumou tou (manusia menjadi manusia untuk memanusiakan manusia).

Istilah itu yang digunakan mendiang Sam Ratulangi menjaga keutuhan orang Minahasa di zamannya.
Secara etimologi, tou berarti `orang' dan timou berarti `hidup', sedangkan tumou berarti `berkembang; tumbuh; mendidik'. Ungkapan itu bagi sebagian besar orang Minahasa dipandang sebagai cara pandang tou Minahasa tentang dirinya serta sesama manusia dalam tatanan hidup bermasyarakat. Prinsip itu penting karena menjadikan orang Minahasa sebagai makhluk sosial. Be gitu pula, sebagai individual hingga komunal dalam menempatkan diri dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tou Minahasa mencakup mereka yang hidup di Minahasa, baik penduduk asli, berdarah campuran, maupun pendatang. Dari sejarah asal-usul manusia Minahasa tercatat bahwa masyarakat tradisional berasal dari daratan Tiongkok bagian selatan. Kisah itu dipopulerkan lewat drama musik Toar dan Mumimuut: Memanusiakan Manusia oleh Remy Sylado di Jakarta pada 2005.
Cendekiawan Mieke Komar K Palar mengatakan keberadaan orang Minahasa dalam berinteraksi dengan orang luar, terutama, orang Portugis dan Spanyol sangat kuat. Begitu pula berabad berikutnya saat bertikai dan berkolaborasi dengan orang Belanda, menunjukkan orang Minahasa tidak mengenal sistem feodalistis.

“Prinsip kesetaraan antar sesama sangat dipegang erat, demikian pula kesetaraan gender,“ ujarnya dalam sebuah diskusi kebudayaan. Dengan bercampur kebudayaan Barat yang cukup kental, terutama masyarakat menganut agama Kristen, rata-rata orang Minahasa juga disebut kawanua (penduduk negeri). Dalam literatur Belanda digambarkan orang Minahasa berkarakter individualistis, berani, terbuka, ramah, suka berpesta ria, dan patuh. Meskipun ada juga unsur individual negatif, yakni pengecut, keras kepala, rendah hari berkelebihan, dan kurang setia. Ada istilah untuk menggambarkan kurang setia itu, yaitu `cikar kanan vaya condios cari laeng'.

Tak hanya di dalam negeri, tersebarnya orang Minahasa di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Belanda, Kanada, dan Jerman, juga menjadi tantangan tersendiri. Bagi Mieke--perempuan yang pernah menetap di Amerika Serikat--budaya orang Minahasa masih kuat. Terutama, lewat mapalus. “Orang Minahasa mampu membaur diri di mana pun mereka berada. Si tou timou tumou tou menjadi pegangan sebagaimana budaya mapalus yang sudah ada secara turun-temurun,“ paparnya.

Mozaik orang Minahasa menjadi cerminan sebagian masyarakat Indonesia. Mereka hadir untuk melengkapi keragaman budaya yang ada di Tanah Air. Melekatnya budaya, baik bahasa maupun kuliner, menunjukkan orang Minahasa tidak pernah menghilangkan akar budaya.
Budaya mapalus mencerminkan jati diri orang Minahasa. Mereka menjaga erat ikatan kekeluargaan untuk saling hidup bergotong-royong secara kultural. Ini masih terasa lewat semboyan torang samua basudara atau kita semua bersaudara. (M-5) - Media Indonesia, 10 Agustus 2014, Halaman 8

Jalur Selatan Terputus di Ciamis

Di jalur pantai utara Jawa, uji coba penggunaan Jembatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang dilakukan kemarin, berhasil. JEMBATAN Cibaruyan, Kampung Cianda, Desa Sukahaji, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ambles.
Akibatnya, jalur selatan yang menghubungkan Bandung-Ciamis-Jawa Tengah terputus sejak kemarin pukul 02.00 WIB.

“Arus lalu lintas yang menghubungkan Bandung-Ciamis menuju Jateng kami tutup total karena ada pergeseran tanah di sekitar Jembatan Cibaruyan setelah hujan deras Kamis (24/7) ,“ kata Kapolres Ciamis AKB Witnu Urip Laksana kepada wartawan di Ciamis, Jawa Barat, kemarin.

Karena itu, Polres Ciamis mengarahkan kendaraan roda empat dan roda dua melalui Jalan Rajapolah, Indihiang, Sukamulya, dan Tasikmalaya. Kendaraan yang melalui jalur Gentong, jelas Witnu, akan dialihkan menuju wilayah Ciawi ke Pamoyanan.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Jabar menargetkan dalam tiga hari menda tang, Jembatan Cibaruyan bisa kembali dilintasi. Dinas Bina Marga Provinsi Jabar berencana memasang jembatan darurat sepanjang 50 meter dan lebar 3 meter.

``Kami berusaha memasang jembatan darurat menggunakan besi bailey dan diperkirakan akan memakan 3 hari,“ kata Yayat, staf Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat Balai V. Menurut dia, waktu pengerjaan diperkirakan lebih lama bila cuaca buruk. “Kalau hujan, mungkin lebih dari 3 hari,“ imbuhnya.

Sebagai dampak amblesnya Jembatan Cibaruyan, kemarin, kemacetan arus mudik terjadi di Jalan Sindangkasih, Ciamis, Karangresik, Simpang Lima, Mitra Batik, Jalan Ir Juanda, Singaparna, Cimaragas, Manonjaya, Garuda, Sutisna Senjaya, Indihiang, Rajapolah, Ciawi, Pamoyanan, dan Gentong.

Di jalur pantai utara Jawa, uji coba penggunaan Jembatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang dilakukan kemarin, berhasil. Jembatan bisa langsung dilintasi kendaraan bertonase di bawah 8 ton.

Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan dan Kelaikan Kendaraan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Jateng Henggar Budi Anggoro mengatakan, dengan dibukanya Jembatan Comal, konsentrasi kendaraan di jalur selatan dan tengah mulai berkurang. (SB/EM/AS/X-12) - Media Indonesia, 25 Juli 2014, Halaman 1

Tambora dan Kearifan Sumbawa

Masyarakat Bima mengabadikan letusan Gunung Tambora lewat Doro Tambora Ma Tambara. HILANGNYA tiga kerajaan kuno di Pulau Sumbawa akibat letus an Gunung Tambora telah membawa sebuah perubahan mendasar dalam tatanan masyarakat di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kejadian mahadahsyat itu diabadikan lewat seni pemanggungan tradisi. Mereka me ngenang buat menjaga nilainilai kearifan lokal.

Gunung tersebut terletak di dua kabupaten, yaitu Dompu dan Bima. Seniman Bima, Lewo Sape, 40, masih ingat betul cerita rakyat yang beredar dalam masyarakat setempat. Baginya, kisah letusan Gunung Tambora tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi masih melekat dalam tatanan kehidupan masyarakat, terutama lewat hikayat, seni tari, dan sastra tutur.

“Ada hubungan antara letusan gunung dan sistem kepercayaan masyarakat. Itu bisa ditemukan lewat tarian-tarian yang ada di sekitar Tambora,“ ujar Lewo di acara Gelar Seni Budaya Bima di Jakarta, dua pekan lalu.
Tari-tarian yang ia maksudkan yaitu tarian sakral Mpa'a Asi (tarian yang berkembang di istana) dan Mpa'a Ari Mai Asia (tarian yang berkembang di luar istana).

Guna mengenang kejadian letusan Gunung Tambora di masa silam, Lewo bersama seniman, budayawan, dan sastrawan Sumbawa berhasil menafsir fenomena alam itu lewat sebuah drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara.

“Dari data sejarah, ada tiga kera jaan yang hilang, yaitu Pekat, Tambora, dan Sanggar. Di sinilah, situs-situs sudah ditemukan para ahli. Ini yang membuat kami ingin mengangkat kembali kearifan lokal kerajaan-kerajaan itu lewat pertunjukan,“ paparnya.
Lewat pendekatan sosial kultural, para pelaku seni berhasil merekonstruksi kejadian itu. Meski sebagai pertunjukan, pada hakikatnya para seniman yang tergabung dalam Sanggar Pesisir itu mencoba menelaah dan menghadirkan kisah apik.
Drama itu tidak menghilangkan nilai-nilai adat dan budaya di masyarakat sekitar Gunung Tambora.

Data sejarah Merujuk pada data sejarah geologi, aktivitas vulkanis gunung berapi tersebut mencapai puncaknya pada 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada indeks letusan gunung berapi (volcanic explosivity index).
Letusan gunung itu terdengar hingga Pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanis jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku.

Letusan gunung itu menyebabkan kematian hingga lebih kurang 71 ribu orang dengan 11 ribu--12 ribu di antaranya tewas secara langsung akibat letusan tersebut.

Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92 ribu orang terbunuh, tetapi angka itu diragukan karena berdasarkan perkiraan yang terlalu tinggi. Letusan gunung tersebut juga diyakini menyebabkan perubahan iklim dunia saat itu. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai `tahun tanpa musim panas' akibat perubahan iklim di Amerika dan Eropa akibat debu yang terbawa oleh angin.

Pada penggalian arkeologi 2004, misalnya, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik.

Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan. Keberadaan Gunung Tambora kini menjadi sebuah berkah. Hal itulah yang membuat seniman Bima pun mementaskan drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara.
Meski disajikan sebagai sebuah seni pertunjukan, Lewo bersama sutradara A'an Sapoetra mampu menyajikan nilai-nilai tradisi yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat di sekitar Gunung Tambora.

“Hal-hal gaib dan mistis yang berkembang dalam masyarakat Bima masih ada. Inilah yang diyakini orang-orang dulu sebagai salah satu penyebab letusan Gunung Tambora hingga meluluhlantakkan semua kampung,“ ujar A'an.
Dalam tradisi di Bima, ada sebuah kepercayaan mistis yang masih berkembang hingga hari ini yang dalam bahasa lokal disebut parafu atau ma kakamba ma kakimbi.

“Mistis inilah yang dihubungkan karena saat itu raja dan masyarakat Tambora tidak memercayai Islam.
Ini sebagai sebuah peringatan Sang Kuasa lewat bencana alam sehingga membuat warga sadar akan ajaran Islam itu sendiri,“ terangnya.

Lewat drama kolosal itu, A'an mencoba `menghidupkan' kembali tradisi kerajaan yang hilang. Ia menggali data lewat wawancara dan pendekatan dengan tetua-tetua kampung.

“Drama kolosal ini diangkat dari data-data sejarah. Saya juga menggali dari tokoh-tokoh kampung,“ papar A'an.
Dalam kehidupan masyarakat Pulau Sumbawa, masih ada tradisitradisi yang bertahan, seperti ngurisan (memotong rambut bayi), upacara tunas ujan (meminta hu jan), rebak jangkeh (kegiatan berakhirnya hajatan), ngosak beras (mencuci beras), dan pengarat (penggembala sapi).

“Nilai-nilai yang ada dalam pen tas ini sebagai bentuk untuk menggali kembali budaya yang ada di sekitar Gunung Tambora. Ini berguna agar masyarakat bisa mengetahui seni tradisi kami,“ timpal Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima Syafrudin H Ahmad. Lewat drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara, para pelaku seni mencoba menampilkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang berakar dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Tambora secara sederhana, religius, dan mistis. (M-3) - Media Indonesia, 6 Juli 2014, Halaman 9

Titik Api Kembali Bermunculan di Riau

Titik api kembali bermunculan di sebagian wilayah Riau. Pada Senin ini(24/3) satelit NOAA memantau ada 21 titik api.

Humas BNPB Sutop menyebutkan, titik api muncul di daerah yang sebelumnya sudah berhasil dipadamkan. Hal itu disebabkan karena cuaca kering akibat siklon tropis gillian yang membawa cuaca kering, "Akibatnya, lahan gambut yang kering kembali terbakar," kata Sutopo.

Penyebab lain adalah adanya aksi pembakaran kembali di lahan yang sudah dipadamkan itu. "Cuaca kering dan potensi kebakaran tinggi. Mohon jangan membakar lagi," kata Sutopo.

Berita lain yang berkaitan : http://leavingscientology.blogspot.com/2014/03/titik-api-kembali-muncul-di-riau.html

Munculnya titik api sudah terpantau sejak Sabtu(22/3) kemarin. Dari citra satelit NOAA 18, pada sabtu sore terpantau 12 titik api. Titik api terlihat di Indragiri Hilir 3, Bengkalis 3, Dumai 2, Rokan Hilir 1, Meranti 1, Siak 1, Pelalawan 1.

Sementara dari satelit MODIS yang lebih luas pemantauannya, terpantau pada Sabtu itu sebanyak 66 titik api yaitu di Bengkalis 37, Meranti 8, Dumai 7, Rohil 9, Pelalawan 4 dan Siak 1.

Menurut Sutopo, saat ini tim Satgas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau masih terus melakukan pemadaman api. Pemadaman dilakukan melalui darat dan udara. Sampai saat ini sudah tercatat 2.837 kali water bombing dengan helikopter. Selain itu, untuk proses hujan buatan, tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sudah menaburkan 72 ton NaCl ke awan. (tim/zamrudtv.com)

Asap Membawa Azab

DI tengah gegap gempita kampanye pemilu legislatif, ada masalah yang sejenak mungkin kurang mendapat perhatian saksama kita; asap yang membawa azab bagi Provinsi Riau yang menyebar ke wilayahwilayah sekitarnya. Pada Kamis minggu lalu, ketebalan kabut asap di Pekanbaru mencapai kondisi paling buruk hingga jarak pandang menjadi terbatas; tidak lebih dari 100 meter.
Dalam operasi tanggap darurat, lebih dari satu juta liter air dijatuhkan dari pesawat-pesawat helikopter; berton-ton garam disebarkan untuk menyemai awan hujan.

Presiden yang khusus datang menyaksikan sendiri situasi tanggap darurat dengan kesal menyatakan mereka yang bertanggung jawab akan terus dikejar. Polusi yang membahayakan kesehatan ini telah selama bertahuntahun datang secara berkala, seakan tidak ada kepedulian dari masyarakat atau karena keputusasaan mereka. Siapa yang mampu mencegahnya?

Tanggal 6 Maret 1980, 34 tahun yang lalu, telah dicanangkan sebagai hari Stra tegi Pelestarian Dunia (World Conservation Strategy/WCS) oleh yang sekarang disebut World Conservation Union, UN Environment Programme, dan World Wide Fund for Nature. Tujuannya, pertama, memelihara proses-proses ekologi yang penting dan berbagai sistem pendukung kehidupan. Kedua, mempertahankan keragaman genetika. Ketiga, menjamin terus digunakannya jenis-jenis kehidupan dan ekosistem.

Pencanangan itu dirasakan memang sudah waktunya sebab yang dilakukan umat manusia sudah ibarat pasak lebih besar daripada tiangnya--dinamika pembangunan yang dilakukan demi kesejahteraan manusia mulai mengalahkan kemampuan sumber yang ada.

Sampai sekarang, kemerosotan mutu tanah terus berlangsung dengan kecepatan sedemikian rupa hingga hampir sepertiga tanah di bumi yang bisa ditanami boleh dikatakan rusak sama sekali. Hutan tropis yang ma sih perawan tinggal sekitar separuhnya. Adapun penduduk dunia terus meningkat sampai mencapai sekitar 7,2 miliar saat ini. Sudah pasti, jumlah manusia yang makin banyak akan membutuhkan sumber-sumber yang semakin langka, diperburuk lagi oleh konsumsi berlebihan di negara-negara maju yang tidak sebanding dengan konsumsi di negaranegara berkembang. Tetapi, tanggung jawabnya harus dipikul bersama, yang berarti negara-negara berkembang harus hidup hemat. Namun, untuk membebaskan ratusan juta rakyatnya yang melarat dan kelaparan sekarang ini, negara-negara berkembang terpaksa merusak sumbersumber yang justru mereka perlukan nantinya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Keadaan seperti ini juga terjadi di Indonesia.
Usaha mengatasi masalah pelestarian yang sifatnya mendesak memerlukan waktu. Misalnya, diperlukan waktu antara 50-150 tahun untuk meremajakan hutan.
Belum lagi lain-lainnya. Tanpa strategi yang jelas dan tegas, akhirnya kita akan pasrah pada situasi. Menjamin berjalannya strategi menjadi tanggung jawab bersama.

Bukan hanya tanggung jawab penyusun kebijaksanaan organisasi-organisasi dunia yang bersangkutan, atau pemerintah setempat dan para penjaga kelestarian alam, tetapi terutama tanggung jawab mereka yang langsung terlibat dengan sumber sumber yang ada. Merekalah yang perlu selalu waspada dan diwaspadai, yakni pelaksana pembangunan, kalangan industri dan perdagangan, kaum buruh dan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan karena tuntutan ekonomi.

Dalam hal azab Riau, pastinya ada di antara mereka yang akan menjadi sasaran kejaran Presiden SBY.
Hutan tropis Indonesia Greenpeace (kelompok internasional untuk pelestarian lingkungan, berdiri pada 1971) mencatat bahwa lebih dari satu juta hektare hutan, yang sebagian besar terdiri dari hutan tropis, hancur setiap bulannya di dunia.
Hutan tropis adalah hutan alam yang terletak di daerah tropis, termasuk yang ada di Indonesia.
Sebagian besar hutan tropis di Indonesia tumbuh di atas tanah gambut, tanah lunak, dan basah terdiri dari lumut dan bahan tanaman lain yang membusuk. Keragaman jenis satwa maupun flora hutan tropis sangat tinggi.

Perkiraan jumlah spesies pohon di hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebanyak 12 ribu-15 ribu.
Merusak hutan tropis berarti merusak belasan ribu spesies pohon yang ikut menopang kehidupan kita.
Asap yang membawa azab bagi Riau adalah contoh kelalaian memelihara lingkungan. Itu berkaitan dengan deforestasi atau perusakan/ pembabatan hutan terutama untuk membuka perkebunan kelapa sawit atau untuk memenuhi kebutuhan industri kayu ekspor. Antara lain fakta itu menjawab mengapa laju deforestasi Indonesia menjadi yang tercepat di dunia; seiring dengan meningkatnya kebutuhan dunia akan produk kertas serta minyak kelapa sawit yang digunakan dalam pembuatan berbagai jenis produk seperti cokelat, mentega, dan pasta gigi. Selama enam dasawarsa, lebih dari 74 juta hektare hutan Indonesia telah binasa; area di sekitarnya mengalami kerusakan berat.

Maka ketika ada berita televisi tentang penangkapan beberapa puluh orang yang bertanggung jawab atas bangkitnya asap yang menghebohkan baru-baru ini di Riau, langsung saja nalar kita menolak ketika yang diasumsikan bertanggung jawab orang-orang kecil yang ditayangkan. Dari data-data satelit yang ditangkap Greenpeace, banyak deforestasi di Provinsi Riau adalah akibat ulah beberapa perusahaan kertas raksasa dan para pengelola perkebunan sawit.

Pelestarian alam kita perlukan untuk membuat kehidupan lebih mudah dengan mengikuti aturan ekologi.
Dari sisi spiritual, itu berarti kita menghormati hidup dan alam yang menghidupi kita. Dalam kerangka itu Greenpeace menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa pada 2015 di Indonesia tidak akan terjadi lagi deforestasi, zero deforestation. Moratorium akan diimplementasikan seketika itu atas deforestasi hutan dan lahan gambut untuk memberikan ruang bernapas; selain pencanangan perlindungan terhadap hutan (SUMBER: MEDIA INDONESIA, 21/03/2014)

Rental Mobil Mewah Padang

Blog pertama saya ini tentunya harus selalu diupdate, blogger memang salah satu layanan internet yang memberikan keuntungan kepada saya dalam menjalankan bisnis rental mobil.
Sekarang saya sudah mulai merambah pasar tour dan travelling meliput beberapa provinsi tetangga dari tempat saya berdomisili.

Travel Pekanbaru Dumai

Apabila kamu membutuhkan transportasi dari Pekanbaru menuju Dumai tentu ada beberapa alternatif yang bisa kamu gunakan untuk menuju tujuan kamu. Pilihan hanya dapat kamu putuskan ketika kamu merogoh saku dan cek isi dompet. Jika keputusan belum bisa kamu dapatkan coba saja cek saldo kamu di ATM terdekat.

Sekali-kali jangan gunakan kartu kredit sebagai pembayaran transportasi darat. Karena jarang banget yang bisa menerima pembayaran via kartu kredit.